Ini kunjungan pertama Anda? Baca dulu laman Bantuan!
x

Nama lembaga asing, apakah perlu diterjemahkan?

0 suara
1,458 tayangan

UN (United Nations) kita terjemahkan menjadi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), tapi kita tidak menerjemahkan WHO menjadi BKD (Badan Kesehatan Dunia, atau Organisasi Kesehatan Dunia)

Bagaimana pula dengan nama universitas, museum, lembaga penelitian, dll? Apakah perlu/harus diterjemahkan? Apakah ada aturan baku dalam bahasa Indonesia soal ini?

Saya pernah berasumsi bahwa penulisan nama asli (tak diterjemahkan) membantu pembaca untuk mencari informasi lebih jauh lewat Google, misalnya. Bandingkan bila diterjemahkan.

Bagaimana menurut kawan-kawan?

ditanyakan 17 Jun 2015 oleh Firman Firdaus
ditag ulang 7 Okt 2015 oleh bennylin

1 Jawaban

+1 suara

Diterjemahkan kok: https://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_Kesehatan_Dunia, walaupun tidak disingkat. Beberapa singkatan (biasanya dalam bahasa Inggris) memang sudah terlanjur populer, dan beberapa usaha untuk menerjemahkan singkatan asing menjadi singkatan Indonesia pun tidak berhasil, karena rata-rata orang tidak mau menghafal lebih dari satu singkatan untuk hal yang sama, contoh kasus: ASEAN vs. Perbara. Selain itu banyak singkatan asing yang berbentuk akronim (bisa dieja menjadi kata), ketika diterjemahkan, tidak menjadi akronim lagi, sehingga orang cenderung memilih akronim alih-alih singkatan, contoh kasus: NATO vs. PPAU, UNICEF vs DAPBB, dll.

Nama universitas juga sebisa mungkin diterjemahkan, kecuali bagian nama dirinya (mis. nama kota, nama tokoh, dll.). "University of ..." mayoritas bisa diterjemahkan menjadi "Universitas ..." Untuk nama museum dan lembaga penelitian menurut saya masih sedikit jumlahnya, sehingga standarnya juga belum terbentuk (paling tidak di Wikipedia belum pernah diangkat menjadi persoalan). Penerjemahannya lebih dilihat kasus-per-kasus

Aturan baku, tergantung sebenarnya di Indonesia yang punya otoritas tentang baku tidaknya bahasa itu sebenarnya siapa. Kalau itu saja belum jelas, artinya bahasa Indonesia dikembalikan ke penggunanya, biar pengguna bahasa Indonesia (baca: media massa konvensional dan elektronik) yang menentukan sendiri mana yang dipakai.

Nama organisasi asli menurut saya perlu disertakan (paling tidak sekali di penyebutan pertama), apabila nama bahasa Indonesianya diyakini belum terlalu populer, selanjutnya (di tulisan/artikel yang sama) bisa terus menggunakan nama/singkatan bahasa Indonesianya, jangan malah ditiadakan, dan terus menggunakan nama aslinya. Apabila dimungkinkan, tidak ada salahnya juga untuk tidak menyingkat-nyingkat nama organisasi (terutama di media elektronik), toh sekarang tidak ada lagi batasan karakter ketika menulis/membaca di media daring (selain mikroblog, tentu saja). Ketiadaan singkatan bahasa Indonesia sendiri bisa jadi disebabkan karena penulis Indonesia, terutama yang bergerak di media massa, malas menciptakan istilah Indonesia untuk memadankan istilah asing tersebut.

Menyebut Google, kalau begitu, sebenarnya (ketika menerjemahkan suatu artikel) kita tidak perlu menerjemahkan apa pun sama sekali, toh Google Translate bisa membantu pembaca bukan? Tapi tentu saja tidak demikian, karena justru di sinilah letak kunci penerjemah, yaitu ketika menerjemahkan nama-nama yang belum pernah diterjemahkan sebelumnya (dan berdialog dengan penerjemah lain untuk mencari terjemahan yang paling pas), yang tidak bisa dilakukan oleh mesin penerjemah. Jangan berikan satu-satunya kelebihan penerjemah manusia kepada mesin!

Berikut ini daftar lengkap organisasi-organisasi internasional yang sudah ada artikelnya di Wikipedia bahasa Indonesia, di sana dapat dilihat bahwa mayoritas sudah menggunakan bahasa Indonesia, meskipun masih ada beberapa yang berbahasa Inggris (kalau mau, Anda pun dapat mengusulkannya di halaman pembicaraan masing-masing artikel):
https://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Organisasi_internasional

dijawab 7 Okt 2015 oleh bennylin
...