Ini kunjungan pertama Anda? Baca dulu laman Bantuan!
x

Bagaimana menerjemahkan nama tokoh?

+1 suara
511 tayangan

Saya sering menemukan kasus ini.

The Great Alexander, apakah diterjemahkan sebagai Aleksander Agung, Alexander Agung, atau Iskandar Agung, karena sejak lama khazanah bahasa Indonesia menulis Iskandariyah untuk Alexandria.

Belum lagi nama-nama yang ditulis dalam bahasa Yunani, misal Ptolemy, yang biasa kita terjemahkan Ptolemius. Atau Marc Anthony, apakah harus diterjemahkan sebagai Markus Antonius. Begitu pula nama-nama orang suci dalam agama Katolik. Apakah harus kita "terjemahkan", atau ini hanya perkara pilihan yang diterapkan untuk lingkup selingkung?

ditanyakan 17 Jun 2015 oleh Firman Firdaus
ditag ulang 7 Okt 2015 oleh bennylin

1 Jawaban

+1 suara

Menurut saya ini bukan penerjemahan, melainkan pengadaptasian atau penyesuaian lafal. Masalah pengadaptasian nama berawal dari kesadaran bahwa tidak semua orang di dunia menggunakan huruf Latin. Selain huruf Latin, dunia juga mengenal huruf Yunani, huruf Sirilik, abjad Arab, huruf Mandarin, aksara Jawa, dan masih banyak lagi.

Alexander the Great (Aleksander yang Agung) nama aslinya menggunakan alfabet Yunani (Ἀλέξανδρος ὁ Μέγας, Aléxandros ho Mégas) yang memiliki dua bagian: pertama nama dirinya, yaitu Ἀλέξανδρος (Aléxandros), sehingga ia juga dikenal sebagai Aleksander III dari Makedonia (karena ia adalah bangsawan, sehingga diberi numeral, dan karena namanya hanya satu kata, digunakan nama geografis sebagai pembeda dari Aleksander III yang lain[1]). Tentu saja kalau kita menggunakan nama "aslinya" tidak akan ada orang di Indonesia yang mengenalinya. Oleh karena itu pilihannya adalah menggunakan ejaan yang sudah lazim (menyangkut kelaziman nama). Kita tidak menggunakan Alexander the Great, atau Charlemagne (atau Charles the Great atau Karolus Magnus), GAIVS IVLIVS CAESAR, atau nama-nama tokoh sejarah lain karena alasan yang jelas: itu adalah nama asing yang diadaptasikan untuk pembaca asing, bukan pembaca Indonesia. Untuk pembaca Indonesia, gunakan nama-nama yang sudah disesuaikan dengan ejaan dan bahasa Indonesia: Aleksander yang Agung, Karel yang Agung, dan Gaius Julis Caesar

Salah satu alasan mengapa nama diadaptasi juga dikarenakan lingua franca pada zaman pertengahan, bahasa Latin, adalah bahasa mati, sehingga nama-nama tokoh yang menggunakan (atau dialihaksarakan menjadi) bahasa/huruf Latin perlu diadaptasi di berbagai tempat yang tidak menggunakan bahasa/huruf Latin, misalnya Sirilik, Yunani, Arab, dll. sehingga muncul banyak variasi nama (dalam kasus tokoh-tokoh gereja Katolik, misalnya)

Untuk nama tokoh sejarah yang menggunakan bahasa Latin, seperti Ptolem[y|ius|aeus] dan Mark Antony[2], biasanya bahasa Indonesia langsung menyerap dari Latinnya, tanpa melalui Inggris, karena secara pelafalan biasanya lebih dekat. Dalam kasus ini nama Ptolemaeus dalam bahasa Yunani: Κλαύδιος Πτολεμαῖος, Klaúdios Ptolemaîos, Latin: Claudius Ptolemaeus, dan untuk Markus Antonius Latinnya adalah Marcus Antonius. Walaupun demikian setiap nama memiliki keunikan khas, dan tidak semuanya bisa disamaratakan pengadaptasiannya.

Pada dasarnya untuk tokoh modern, nama paling hanya bisa ditransliterasikan, tidak lagi diadaptasi, misalnya PM Yunani Αλέξης Τσίπρας di bahasa Indonesia menjadi Aleksis Tsipras, di bahasa Inggris Alexis Tsipras. Secara garis besar, kalau dia tokoh zaman dahulu, maka namanya bisa diadaptasi menjadi Aleksius Tsipras. Cuma, menurut perhitungan saya, kurang lebih sejak era Copernicus, nama-nama tokoh tidak lagi diadaptasi..

Perkecualian untuk pengadaptasian nama di zaman modern ini praktis hanya tinggal tokoh-tokoh agama, paling terkenal tentu saja nama gelar Paus[3]. (hanya nama gelarnya saja yang diadaptasikan, nama dirinya tidak) Nama tempat pun tidak lagi diadaptasi, kecuali yang berkenaan dengan arah, misalnya South Africa -> Afrika Selatan, bentang alam, misalnya Isle of Man -> Pulau Man, dan pembagian administratif, misalnya New York City -> Kota New York

Mengenai variasi ejaan, hal itu disebabkan karena sebuah nama bisa memiliki sejarah panjang yang tidak satu arah. Untuk contoh Aleksandria/Iskandariyah, misalnya, nama pertama merujuk pada sumber-sumber Barat (baca Eropa/Inggris/Amerika), sedangkan nama kedua datangnya dari sumber-sumber Arab. Dan hal itu wajar-wajar saja serta tidak perlu dipertentangkan.

Nama tempat, tidak seperti nama orang, bisa lebih "panas" diperdebatkan, karena jika nama orang hanya menyangkut orang tersebut, tapi nama tempat menyangkut ribuan bahkan jutaan orang. Simak, misalnya debat sangat panas tentang nama Gdańsk/Danzig, yang pertama adalah nama Polandia, yang kedua adalah nama Jerman, dari sebuah kota di Polandia.[4][5] atau nama Kiev/Kyiv, yang pertama adalah nama Rusia yang lebih terkenal daripada nama Ukrainanya (kedua).

Jadi, kesimpulannya: untuk nama-nama modern, gunakan transliterasi, untuk nama-nama lama, bisa memilih antara transliterasi maupun adaptasi. Yang paling penting adalah mencari tahu nama "aslinya". Kalau bingung/ada pertanyaan, bisa merujuk ke halaman Wikipedia bahasa Indonesia, atau hubungi Wikipediawan terdekat :) [5]

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Alexander_III
[2] Marc Anthony adalah nama penyanyi Latin, untuk jenderal dan politikus Romawi, nama dalam bahasa Inggrisnya adalah Mark Antony :)
[3] https://www.wikidata.org/wiki/Q450675#sitelinks-wikipedia
[4] https://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Wikipedia_Signpost/2005-02-21/Gdansk_or_Danzig
http://what-when-how.com/wikipedia/gdanskdanzig-wars-wikipedia/
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penamaan/Lokasi_geografis

dijawab 7 Okt 2015 oleh bennylin
diedit 7 Okt 2015 oleh bennylin
...