Ini kunjungan pertama Anda? Baca dulu laman Bantuan!
x

Apa benar lawan kata rekonstruksi adalah destruksi?

0 suara
1,323 tayangan

Menurut KBBI:

rekonstruksi
n 1 pengembalian seperti semula; 2 penyusunan (penggambaran) kembali;

destruksi
n perusakan; pemusnahan; penghancuran; pembinasaan;

Nah, asumsi saya begini: A membunuh B, lalu A merekonstruksi kejadian tersebut di hadapan polisi.

Yang ingin saya tanyakan: apa sebutan saat A merencanakan (menyusun) niatnya membunuh B yang sedang terjadi di dalam pikirannya?

ibaratnya, seorang sutradara akan membuat film. Sebelum "action", ia membayangkan posisi dan gerak-gerik tokohnya dulu di dalam pikirannya. Apa sebutan untuk hal sedang dikerjakannya itu. Tentunya bukan imajinasi, mengkhayal dll karena si sutradara akan mewujudkannya semua gambaran di kepalanya itu dalam filmnya. Seperti pembunuh yang benar-benar sudah punya niat untuk membunuh korbannya.

Sepemahaman saya (betulkan kalau salah), konstruksi adalah lawan kata destruksi.

Lalu, lawan kata rekonstruksi apa?

Thanks

ditanyakan 15 Mar 2015 oleh calonproofreader

2 Jawaban

+1 suara

Rekontruksi mendapat awalan re-. Kata dasarnya adalah "konstruksi"

Konstruksi - Destruksi; Rekonstruksi - Redestruksi (bagaimanapun kata ini tidak nyaman dibaca)

dijawab 18 Mar 2015 oleh 9typo
diedit 16 Mei 2015 oleh peb
0 suara

Dekonstruksi

Di KBBI belum ada

Di Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Dekonstruksi

dijawab 8 Okt 2015 oleh bennylin

Jadi kesimpulannya,

konstruksi = membangun (gedung)
destruksi = merusak (gedung)
rekonstruksi = membangun kembali (gedung setelah dihancurkan)
dekonstruksi = rancangan awal di atas kertas (sebelum gedung dibangun)

Apa benar demikian? Mohon betulkan jika saya salah.

Lalu, kata "dekonstruksi" itu seringkali digunakan dalam cabang ilmu apa? apakah hanya untuk filsafat atau hak yang berkaitan dengan teknis juga boleh?

Dan apakah ada kata "Redestruksi"?

Terima kasih!

Tidak semua kata punya atau perlu punya lawan katanya. Banyak yang punya, banyak juga yang tidak, dan bahkan ada yang punya lebih dari satu. Contoh klasik lawan kata manis bisa pahit, bisa juga asin. Terlebih lagi "rekonstruksi" adalah kata turunan dari "re-" dan "konstruksi", yang bermakna "konstruksi ulang". Kalau mau dipaksakan atau ada kebutuhan, ya bisa saja orang menciptakan kata "redestruksi" yang dimaknai "destruksi ulang, lawan dari rekonstruksi"

Perihal kata serapan "konstruksi", tentu harus dilihat juga dari bahasa aslinya (yang kemungkinan juga meminjam dari bahasa lain, semisal Yunani/Latin) untuk informasi lebih lengkapnya, baik mengenai definisi maupun sinonim/antonim dan kata-kata yang berhubungan. Anggap saja kata ini bersumber dari bahasa Inggris "consctruction", menurut https://en.wiktionary.org/wiki/construction dari bahasa Latin via Perancis, sinonimnya "builiding" (id = bangunan), antonimnya "destruction" (id = destruksi), kata-kata yang berhubungan antara lain "construct" (verba, tidak ada padanannya? mengonstruksi?), -- tidak dijelaskan lebih lanjut hubungan "construction"-"destruction" berasal dari akar kata apa, kemungkinan "struct(ure)".

Kemudian https://en.wiktionary.org/wiki/reconstruction tidak menyebutkan kata ini dari Latin/Perancis, jadi ini kata yang cukup baru, sayangnya di sana belum memuat sejarah kata ini serta sinonim/antonimnya. Roget Thesaurus (http://kamus.sabda.org/dictionary/reconstruction) memuat banyak sinonim kata ini, tapi tidak ada antonimnya; di halaman yang sama juga ditulis bahwa kata ini diturunkan dari verba "reconstruct". Jadi jawaban pasti atas pertanyaan Anda, tidak ada lawan kata dari kata "rekonstruksi" menurut sumber-sumber yang berotoritas yang saya dapati.

Kata dekonstruksi yang saya sodorkan di atas, bisa jadi, tidak lebih dari lawan kata konstruksi itu sendiri (selain kata destruksi). "To construct" = membuat, "to destruct" = menghancurkan, "to deconstruct" = membongkar, "to reconstruct" = membuat ulang. Saling berhubungan di level verba, walaupun belum tentu berhubungan di level nomina, karena "deconstruction" sekarang lebih dipahami sebagai suatu mahzab filosofi (dekonstruktionisme), terutama kritik literatur, tidak berhubungan dengan bongkar-membongkar bangunan (banyak kata-kata lain yang dipakai: dissassemble, dismantle, dll.)

Mari kita lihat definisi "reconstruction" itu sendiri, yang saya dapat dari Wordnet:
reconstruction (noun.communication) - an interpretation formed by piecing together bits of evidence;
Kemudian dari Wiktionary:
A result of an attempt to understand in detail how a certain result or event occurred. "The detective's reconstruction of what happened that night is dubious."

Terkait skenario Anda: (sebenarnya saya masih sedikit tidak paham mengapa mencari lawan kata rekonstruksi, mungkin perlu diberi kalimat contohnya yang membutuhkan kata antonim "rekonstruksi")

Menurut saya itu tetap imajinasi, yang berusaha dikonstruksikan (diwujudkan) di dunia nyata, baik itu film di angan-angan sutradara maupun skenario kriminal. Hal itu dianggap imajinasi, karena: 1. tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang ada di kepala, kalau itu belum diwujudkan, termasuk orang itu sendiri belum tentu bisa menggambarkan dengan akurat hanya dengan kata-kata. 2. Setelah diwujudkan pun, (baik film maupun pembunuhan) belum tentu sesuai 100% dengan yang diangan-angankan, mengasumsikan orang tahu 100% apa yang dia ingin wujudkan (kembali ke poin 1)

Kejadian itu sudah diwujudkan (dikonstruksikan), dalam hal ini tidak ada yang didestruksi (kecuali nyawa yang hilang, mungkin), tapi proses rekonstruksi kejadian pun sebenarnya bukan rekonstruksi secara nyata, karena tidak mungkin dia membunuh lagi orang yang sama, atau orang yang lain juga. Saya lebih cenderung menyebut si A "memeragakan (ulang)" kejadian tersebut, karena dia hanya berakting saja, tidak benar-benar merekonstruksi (mewujudkan ulang) tindak kriminal itu lagi di depan polisi-polisi yang menonton. Cuma masalah, kata benda "pemeragaan (ulang)" mungkin dianggap belum terlalu berterima di masyarakat.

Polisi kita (dibantu media massa) yang lebih memilih memopulerkan kata "rekonstruksi (kejadian)" ini menurut saya sedikit salah kaprah, dan malah menjadikannya semacam adegan pertunjukan, alih-alih suatu deduksi dari fakta-fakta. Coba Anda simak novel-novel detektif, misalnya Poirot atau Holmes, ketika berusaha merekonstruksi kejadian kriminal, tidak menyuruh pelaku untuk memeragakan ulang, mereka biasanya hanya menggambarkan itu dengan kata-kata dan semua yang mendengarnya akan paham. Dalam konteks Indonesia, hal itu digantikan dengan tersangka dipaksa dengan halus (kok mereka ya mau ya?) untuk memeragakan ulang kejahatannya supaya bisa diabadikan dengan kamera wartawan. Maka lahirlah paham rekonstruktionisme ala polisi + wartawan Indonesia abad ke-21.

Atau memang kata ini sedang mengikuti perkembangan zaman?

...